Kenapa Baginda Sulaiman Suka Berbicara dengan Semut? Dari Video Si Ujang sampai Raja Idrus dan Ratu Markonah
Dalam Al Quran, surah An Naml (27) ayat 18-19, dikabarkan
bahwa Baginda Sulaiman dan bala tentaranya berjalan sampai ke suatu daerah di
mana di sana banyak koloni semut. Lalu salah seekor semut berkata kepada
teman-temannya, "Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu,
agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka
tidak menyadari." Mendengar hal itu, Baginda Sulaiman tersenyum lalu
tertawa, dan berdoa agar tetap bersyukur akan nikmat yang diberikan Allah,
mengerjakan kebajikan, dan memohon agar dimasukkan ke dalam golongan
orang-orang saleh yang dirahmati Allah.
Kenapa Baginda Sulaiman tersenyum lalu tertawa? Mungkin banyak tafsir yang sudah membahas ini. Tapi bisa jadi karena Baginda Sulaiman melihat kejujuran dalam ucapan semut itu. Adalah benar bahwa tentara yang berjalan menuju medan perang tidak akan memperhatikan apa saja yang merintanginya termasuk hanya sekumpulan semut. Apa yang disampaikan oleh semut itu, bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan.
Ada satu video tentang semut yang menyampaikan "makanan" yang ditemukannya kepada teman-temannya sesama semut. Dalam video itu, seseorang meletakkan dalam sebuah tempat, sepotong daging. Setelah ditunggu beberapa lama, seekor semut tampak mendekat masuk ke dalam tempat itu, lalu menghampiri daging tersebut. Setelah mendekat pada daging dan memastikan bahwa yang ditemuinya adalah makanan, semut - yang dalam narasi video itu disebut sebagai "Si Ujang" - itu pun pergi untuk memberitahu teman-temannya bahwa dia menemukan makanan.
Sesaat setelah Si Ujang pergi, orang yang meletakkan daging mengganti daging dalam tempat itu dengan sepotong lengkuas. Tak lama kemudian datanglah rombongan teman-teman Si Ujang bersama Si Ujang yang tampak antusias seperti seorang tour guide yang membawa rombongan ke toko oleh-oleh. Mungkin Ujang juga berharap dirinya akan mendapat kredit yang bagus dari senior-seniornya atau dari para pejabat semut karena menemukan makanan yang enak dan banyak itu. Namun, yang tak Si Ujang sadari, teman-temannya, bahkan seorang penjabat semut yang ikut untuk melakukan verifikasi penemuan Si Ujang ini, mendapatkan bahwa yang Si Ujang katakan makanan ternyata hanya lengkuas. Begitu mengetahui hal itu, Si Ujang tampak kebingungan mendapatkan beragam protes dari anggota rombongan dan Pejabat itu.
Video itu menunjukkan bahwa semut tidak pernah berbohong kepada sesamanya. Apa yang dilihat, akan disampaikan apa adanya. Seperti dalam ayat Al Quran tadi, semut yang memberitahu pasti sudah melihat datangnya Baginda Sulaiman dan bala tentaranya. Karena itulah dia menyampaikan apa yang dilihatnya agar semut-semut lain segera sembunyi ke dalam lubang-lubang yang ada agar tidak terinjak-injak.
Kebalikannya, manusia belum tentu mau menyampaikan apa yang dilihatnya, yang dirasakannya, yang didengarnya, dengan apa adanya. Selama menguntungkan dirinya, belum tentu dia mau berbagi dengan yang lain. Belum lagi, ada sifat malas dan menunda melakukan sesegera mungkin hal yang baik, membuat manusia kadang berkata sesuatu yang belum tentu bisa dia jalani. Kita ingat ketika Joko Widodo ditanya mengenai kans Gibran Rakabuming Raka untuk didapuk sebagai calon wakil presiden bersama calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto. Saat itu, dia berkata bahwa Gibran belum pantas untuk naik ke posisi semacam itu karena baru 2 tahun menjabat sebagai walikota Solo. Namun ketika sudah diumumkan sebagai calon wakil presiden, Joko Widodo berkata bahwa sebagai orang tua dirinya hanya bisa mendukung.
Sebelumnya, Joko Widodo juga pernah mengatakan bahwa putra-putranya tidak ada yang berminat untuk masuk ke dunia politik. Jauh sebelum Gibran maju sebagai calon walikota Solo, jauh sebelum Kaesang masuk ke Partai Solidaritas Indonesia, dan kemudian menjadi Ketua Umumnya. Putra-putranya, menurut Joko Widodo, masih sangat fokus untuk mengurus bisnis mereka. Gibran dengan usaha martabaknya, Kaesang dengan usaha pisangnya.
Terlepas bahwa politik adalah panggung sandiwara yang penuh dengan muslihatnya, manusia seringnya tidak bisa berkomitmen terhadap apa yang diucapkannya. Berniat diet tapi Go-Food jalan terus. Ada banyak istilah terkait kebohongan, seperti bohong kecil, bohong besar, bahkan ada istilah bohong putih, yaitu kebohongan yang dilakukan demi suatu kebenaran atau menutupi aib yang tidak seharusnya dibongkar.
Hampir setiap kali ada kebohongan yang ditebar. Ditanya "Sudah sampai mana?" dijawab "ini OTW!" padahal baru bangun dari tidur. Ditanya, "Sibuk, gak?" Dijawab "Aduh mau meeting nih..." Padahal hanya malas untuk bertemu dengan si penanya. Atau ketika ada yang minta tolong dijawab, "Lagi kurang enak badan, nih..agak meriang." Tidak seperti ketika Baginda Sulaiman meminta burung Hud-Hud untuk melihat keadaan negeri Saba, burung Hud-Hud langsung terbang tanpa meminta penjelasan lanjut misalnya harus terbang ke sebelah mana atau minta share-loc lebih dulu.
Belum lagi di era digital dan AI, banyak sekali kebohongan diproduksi. Baik yang berbentuk hoaks, atau seminimal penggunaan filter di media sosial untuk mengubah penampilan agar terlihat lebih menarik. Bahkan bukan hanya memproduksi, tapi banyak dari manusia yang turut menyebarkan kebohongan hanya semata-mata untuk mendapatkan keuntungan pribadi baik itu material atau yang lainnya. Jadi bisa dikatakan bahwa dalam sejarahnya, manusia bukan hanya menjadi korban dari kebohongan, tapi juga sebagai pelaku-pelaku dari kebohongan-kebohongan yang ada.
Di zaman pasca kemerdekaan, ada cerita yang beredar luas di Tegal, tentang Raja Idrus dan Ratu Markonah. Mereka berdua diterima hadir di Istana Negara oleh Presiden Soekarno, karena sebagai Raja dan Ratu dari Suku Anak Dalam di Jambi, mereka memiliki kekayaan alam yang akan disumbangkan untuk membantu Indonesia dalam perebutan Irian Barat dari pihak Belanda. Karena dianggap berjasa, keduanya diganjar berbagai fasilitas negara. Namun, kedok mereka segera terbongkar karena beberapa orang tukang becak mengenali Raja Idrus sebagai salah seorang dari tukang becak di Jakarta. Walhasil diketahui bahwa ternyata Idrus memang seorang tukang becak dan Markonah adalah seorang pelacur kelas teri yang berasal dari Kota Tegal, Jawa Tengah.

Komentar