Dalam kisah 99 Orang Shalih, terdapat cerita tentang Abu Abdillah Al-Qalanisi yang dalam perjalanan berombongan dengan berperahu terkena badai. Dalam kondisi angin ribut dan gelombang besar, ia bernazar jika selamat dari badai, tak sekalipun dalam hidupnya untuk makan daging gajah. Mendengar doanya, yang lain terheran-heran, “Apakah boleh berdoa seperti itu?”
Meskipun
perahu mereka hancur, rombongan tersebut bisa terdampar dengan selamat dan
terdampar di suatu tempat. Saat mereka sudah kelaparan dan tak menemukan
makanan, tiba-tiba muncul seekor anak gajah. Mereka pun segera menangkap dan
menjadikan daging anak gajah itu sebagai makanan, kecuali Abu Abdillah Al-Qalanisi
yang tak mau menyentuh daging anak gajah seperti nazarnya.
Gajah, sebenarnya,
karena memiliki gading yang dianggap sama dengan bertaring, dianggap oleh
sebagian besar umat Islam haram hukumnya untuk dimakan. Kepada Abu Abdillah Al-Qalanisi,
rombongan itu memberi alasan bahwa karena kondisi darurat maka diperbolehkan
yang dianggap haram menjadi halal. Setelah kenyang makan daging anak gajah, mereka
pun tertidur. Sementara Abu Abdillah Al-Qalanisi waswas apabila induk dari anak
gajah yang disembelih itu datang, maka ia pun berjaga-jaga.
Tetapi
karena kelelahan, Abu Abdillah Al-Qalanisi pun turut tertidur. Dan benar saja,
induk gajah itu datang mencari-cari anaknya dan saat mendapati tulang-tulang
yang tersisa, ia pun tahu bahwa anaknya sudah dimakan oleh rombongan itu. Maka,
satu persatu dari mereka diperiksa dengan mencium bau daging anaknya pada tubuh
rombongan yang tertidur. Begitu didapati ada bau anaknya, induk gajah itu pun
menginjak orang itu sekeras-kerasnya sampai mereka mati remuk. Hanya Abu
Abdillah Al-Qalanisi saja yang tersisa karena induk tersebut tidak mendapati
bau anaknya di tubuhnya. Bahkan Abu Abdillah Al-Qalanisi oleh induk gajah itu dibawa
ke sebuah kampung yang makmur sehingga orang shalih itu pun dijamu dengan
sebaik-baiknya.
Dari cerita
itu, kita tahu bahwa gajah itu sangat impulsif dan ekspresif dalam menyatakan
perasaannya, untuk tidak dicap dengan kata agresif. Secara ilmiah, gajah bisa
mengeluarkan suara dengungan rendah (infrasonik) yang bisa terdengar sampai
berkilo-kilometer untuk menyatakan bahaya atau ketidaknyamanan. Di samping
seperti di cerita tadi, gajah bisa melakukan protes atau agitasi, dengan menginjak
dan membanting pihak lain yang dianggap mengancam hidupnya, atau sekadar mengibaskan
telinga, menginjak-injak tanah, atau mengangkat belalai sebagai ungkapan emosi
mereka. Di sisi lain, gajah adalah salah satu sedikit hewan yang diketahui bisa
berduka (mourning) dengan terlihat "sedih" atau tertekan saat
kehilangan anggota kawanan.
Sementara
di dalam komunikasi manusia ada yang disebut dengan "Olympiad of
Suffering" atau "One-upping". Ini adalah kejadian di mana
seorang yang sedang mengeluh atau menceritakan masalahnya mendapat tanggapan
berupa keluhan atau masalah yang dialami oleh pihak yang diinginkan bisa
menjadi tempat berkeluh kesah tadi. Bahkan masalah yang diceritakan bisa lebih
banyak daripada orang yang duluan mengeluh.
Sebenarnya,
ada beberapa alasan mengapa manusia cenderung melakukan hal seperti itu. Yang
pertama tentu ketidaknyamanan (discomfort). Seperti semua orang ingin
mengetahui happy ending dan tidak ada yang ingin mendapati sad ending.
Bahkan istilah happy ending (dan sad ending) juga tercipta karena
soal ketidaknyamanan itu. Prinsipnya, tidak ada seorang pun yang ingin
mendengarkan kesedihan. Itu adalah alasan yang paling utama.
Kemudian,
untuk menyeimbangkan “neraca emosi”, pihak yang mendapat keluhan kemudian
mengeluarkan simpanan penderitaan mereka. Dengan demikian mereka bisa berada
pada “level sedih / menderita” yang sama dengan pihak yang berkeluh kesah.
Ibaratnya, jika seorang menitipkan sebongkah batu ke keranjang kita, maka kita
harus menitipkan juga beberapa bongkah batu ke keranjang orang lain, supaya
kita bisa berjalan dengan beban yang tak berat juga.
Hal
lain adalah, kemampuan komunikasi yang terbatas. Kebanyakan dari kita memang menganggap
bahwa setiap ada persoalan berarti kita harus memiliki jawaban atas persoalan
itu. Padahal belum tentu orang yang datang membawa masalah memerlukan jawaban
dari kita yang didatangi. Bisa saja hanya sekadar ingin second opinion,
atau sudut pandang yang berbeda dari pandangannya. Bisa juga dia menganggap
kita sebagai pihak yang lebih mampu untuk melakukan helicopter view atas
persoalannya karena kita adalah pihak yang berjarak dengan masalah tersebut,
sehingga lebih jernih dalam memandangnya. Atau mungkin hanya untuk memastikan
apakah langkah-langkah yang telah disusunnya dalam memecahkan masalah itu sudah
tepat susunannya.
Ketika kita
selalu menganggap bahwa masalah harus bertemu jawaban, maka mendengarkan
permasalahan (active listening) selalu menjadi lebih terhambat karena
otak kita diperintahkan lebih dulu untuk mencari jawaban, dan alih-alih menemu
jawaban kadang kala yang muncul adalah rangkuman dari peristiwa-peristiwa serupa
yang kemudian kita utarakan sebagai tanggapan dari cerita permasalahan orang
tersebut.
Maka
yang terbentuk kemudian adalah semacam mekanisme pertahanan, yang maksudnya
baik yaitu seolah menyatakan “Aku benar-benar mengerti perasaanmu, karena
aku juga pernah mengalami masalah seperti itu” sehingga pihak yang memiliki
masalah akan berhenti mengeluh kepada kita karena mereka beranggapan bahwa at
least kita punya rasa empati terhadap permasalahan yang tengah dihadapinya.
Namun mungkin karena ternyata banyak juga masalah yang pernah kita hadapi, maka yang terjadi adalah kita beradu masalah. Validasi yang diharapkan oleh pihak yang mengeluh malah menjadi sorotan ke diri kita sendiri. Akhirnya pengeluh merasa sia-sia berkeluh kesah dengan kita. Dan timbullah pernyataan, “Bukannya bantu meringankan pikiran malah menambah beban pikiran” atau, “Bilang saja dari tadi tidak mau bantu, jangan malah jualan masalah juga.” yang semuanya berasal dari tidak adanya validasi atau justru merasa disepelekan.
Yang
perlu disadari, kadang orang mengeluh kepada kita itu memang tidak perlu
bantuan atau jawaban, tapi mereka hanya perlu semacam holding space,
semacam ruang untuk mereka bisa merasa sedikit lega. Perlu seseorang yang
mungkin tak berkata apa-apa selain, “Wah. Berat juga masalahmu, ya. Semoga
cepat teratasi.” sambil sesekali menepuk pundak mereka. Bahkan jika ada yang
balik bertanya, “Aduh. aku bisa bantu apa nih? Kalau materi mungkin kita
sama-sama tahu ya. Tapi kalau ada yang perlu dibantu, bilang saja, ya!” pihak
yang tadi mengeluh belum tentu juga langsung mengungkapkan kebutuhannya dalam
menyelesaikan masalah tersebut.

Komentar