Karena Ada yang Tak Perlu Validasi

 


Seorang teman Nasruddin berkali-kali bertanya kepadanya, “Apakah aku ini adalah seorang dari sahabatmu?” Belum juga dijawab, dia sudah bertanya kembali, “Apakah kau benar-benar menganggapku sebagai seorang dari sahabatmu?” Usut punya usut, ternyata dia hanya menginginkan cincin indah yang dikenakan oleh Nasruddin.

Dia beralasan bahwa jika Nasruddin memberinya cincin tersebut, maka orang-orang akan mengetahui bahwa dirinya adalah sahabat Nasruddin, terlebih Nasruddin sendiri akan sangat mengingatnya karena ia memberikan cincin paling berharganya tersebut. Namun Nasruddin tidak kalah akal. Kepada orang tersebut, ia berkata bahwa mengetahui bahwa teman itu sangat menginginkan cincinnya, ia justru tidak mau melepaskan cincin itu dengan alasan, “Supaya setiap aku melihat cincin ini, aku teringat seorang sahabat yaitu dirimu, yang begitu menginginkannya.”

Oleh Abraham Maslow, dua kebutuhan manusia akan cinta, penerimaan, dan rasa memiliki (belonginess) dan juga rasa hormat dan kagum dari orang lain, termasuk rasa percaya diri, di dalam piramida kebutuhannya yang terkenal itu, diletakkan secara berdampingan. Jika keduanya digabungkan, itulah kebutuhan akan validasi. Kebutuhan akan makna diri seorang manusia di antara orang lain. Hal ini terkait dengan keberadaan manusia sejak zaman purba yaitu berkelompok. Jika seorang merasa dirinya tidak diterima atau tidak dianggap dalam kelompoknya, itu berarti posisinya dalam bahaya.

Karenanya, orang cenderung mencari konfirmasi akan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Bahkan ada teori yang dikemukakan oleh Ryan dan Deci di mana relatedness (keterhubungan) adalah kebutuhan psikologi dasar di samping kemandirian (autonomy) dan kompetensi (competence). Meskipun dalam teori mereka disebutkan juga bahwa jika relatedness selalu membutuhkan dukungan dari eksternal, maka akan melemahkan dua kebutuhan lainnya.

Permasalahannya, apakah setiap orang bisa mengerti akan teori tersebut dan menyadari gejalanya? Permasalahan lainnya adalah bahwa manusia juga secara alami memiliki kemampuan untuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Dengan kecenderungan ini, dia mungkin tidak mau tahu bahwa orang yang sedang mendapatkan banyak dukungan itu memang sedang bermasalah atau rapuh, egonya akan mengatakan bahwa kenapa kalau dia bisa mendapatkan dukungan banyak orang kenapa dirinya tidak?

Apalagi, misalnya. kita berhadapan dengan hubungan di dalam pekerjaan. Di mana yang dianggap berkuasa (entah level manager, atau bahkan C-level) dianggap terlalu memperhatikan seorang karyawan dibandingkan kita. Tentu, itu akan menjadi isu termasuk isu ke dalam diri, bertanya: apakah aku memang tidak disukai? Atau apakah memang pekerjaanku begitu buruk?

Ikatan atau bonding antara manusia satu dengan yang lain memang memerlukan banyak upaya. Karena itu muncul istilah take and give atau win-win situation, dan sejenisnya. Hubungan yang kompleks dan rumit seperti ini tidak pernah ada jika dibandingkan dengan anjing terhadap tuannya. Natur atau sifat alami seekor anjing terhadap tuannya bisa dibilang sebagai hubungan yang hyper-social. Pemilik anjing tidak perlu terlalu sering untuk memberikan pujian “Good boy / girl” kepada anjingnya hanya karena anjing bertingkah baik. Anjing pun merasa hal itu tidak terlalu diperlukan.

Bagi seekor anjing, antara pujian, suara panggilan gembira, termasuk kontak mata, berpengaruh sebagai rangsangan pada daerah otak yang sama, dengan ketika ia diberi reward berupa makanan. Meskipun ada penelitian fMRI yang menunjukkan bahwa pujian dari pemilik itu memiliki nilai yang lebih daripada reward makanan, tapi yang pasti efeknya sama yaitu membantu mereka untuk lebih cepat belajar terhadap perilaku (seperti duduk, berbaring, salam, diam) yang diinginkan untuk mereka lakukan, dan memperkuat ikatan antara anjing tersebut dengan tuannya.

Anjing tidak memiliki konsep diri (self-concept) yang rumit. Baginya hidup adalah hari ini di mana ia bisa makan, bermain, merasa bosan, bersenang-senang, tidur sebentar. Anjing tidak melamunkan diri mengapa hari ini dia tidak dipuji oleh tuannya dengan berlama-lama tercenung seperti orang yang mengalami depresi atau overthinking. Padahal, anjing juga mahluk sosial. Dia merasa keluarga yang memeliharanya sebagai satu “pack” atau keluarganya sendiri. Selama di dalam keluarga itu ada yang bertindak untuk mengendalikan tingkah lakunya, anjing akan merasa bahwa dia tetap bagian dari keluarga, tanpa perlu bertanya terus menerus, “Apakah aku dicintai? Apakah kalian menganggapku ada? Dan sebagainya.

Sean, seorang pemuda yang memiliki sekolah anjing pernah berkata dalam satu video yang membahas seekor anjing yang gemar menggigit siapa saja yang ada di dekatnya. Dia mengatakan bahwa mengapa anjing itu jadi tidak penurut, karena dalam keluarga tersebut tidak ada yang bisa menunjukkan kepada dirinya bahwa dia (selain anjing itu) adalah pemimpin. Hal ini terjadi, selama pertumbuhannya, anjing itu begitu disayang, belum pernah mendapat koreksi sekalipun terhadap tingkahnya. Misalkan ia menggongong karena ada tamu yang belum dikenal, bukannya dibentak tapi malah dicandai dan kalau sudah mau menggigit atau bahkan sudah menggigit, ia malah digendong untuk menjauh saja. Dengan perlakuan seperti itu, anjing itu merasa dirinya adalah pemimpin di dalam keluarga tersebut.

Sebaliknya, meski mahluk sosial, manusia justru selalu menganggap dirinya lebih baik atau paling tidak memiliki sesuatu yang dibanggakan dibandingkan dengan orang lain. Bahkan terhadap pemimpin kelompoknya seseorang bisa saja menyalahkan tindakannya. Seperti misalnya ilustrasi soal kantor, di mana seorang karyawan yang tidak mendapatkan pujian dari atasannya, meskipun dia agak ceroboh dibandingkan dengan saingannya dalam bekerja, tetap saja dia tidak bisa terima mendapatkan perlakuan yang berbeda. Ujungnya, dia bisa overthinking, kemudian mengajukan resign, dan saat interview di tempat baru dan ditanya kenapa resign, dia akan menjawab kalau lingkungan kerjanya sudah tidak asyik, atau malah toxic.

Sebenarnya, validasi itu sesuatu yang normal atau wajar. Mendapatkan atau mencari dukungan saat sedang tertekan atau down, atau beroleh pujian karena keberhasilan itu sesuatu yang sehat dan dapat mengeratkan suatu hubungan. Yang menjadi tidak wajar atau berlebihan dan tidak sehat adalah ketika kita merasa diri kita berharga kalau ada opini orang lain. Belum lagi dengan bertanya berulang-ulang (reassurance) terhadap apa yang sudah bisa dianggap jelas, seperti misalnya baru mau pergi jika ucapan, “I love you”-nya dijawab juga dengan “I love you too.”

Kemudian jika diri merasa cemas jika tak seorang pun memberi tanda “like” pada postingan yang diunggah di media sosial, itu juga tanda-tanda kita haus akan validasi dari orang lain. Belum lagi jika ada yang berkomentar miring terhadap opini kita, lalu kita ubah opini itu. Yang penting, kita akhirnya disukai banyak orang daripada kita tetap dengan pendapat kita yang sesungguhnya, ini juga berarti kita haus akan validasi.

Memang benar bahwa self-esteem dipengaruhi juga oleh banyak hal dari luar diri kita (eksternal) tapi jangan lupa, kita pun memiliki self-esteem karena sesuatu yang ada dalam diri kita (internal). Salah satunya dengan kompetensi dan kemandirian yang dimiliki. Jadi, alih-alih mencari validasi, lebih baik meningkatkan kompetensi dan kemandirian. Kira-kira begitu.


Komentar