Gak ngeluh, gak komplen, cuma heran aje. Begitu kata Yutaka Tokunaga, warga negara Jepang yang bolak-balik ke Indonesia untuk urusan bisnis. Dia 'ngomong gitu karena dia kehilangan sebelah kaus kakinya ketika nge-laundry di Indonesia.
Dari pengalaman yang diceritakan di LinkedIn ini, dia bilang mungkin ini hal yang biasa terjadi di Indonesia. Tapi tidak pernah terjadi di Jepang. Meski dia tidak menjelaskan seperti apa tepatnya di Jepang, saya bayangkan begini, misalkan saya seorang petugas atau pekerja di laundry. Begitu customer datang, dicek dulu, apa saja jenis pakaiannya, berapa jumlahnya, semua itu dicatat. Setelah selesai di-laundry, dicek lagi catatannya, sama atau tidak dengan yang awal. Dengan demikian tidak akan pernah ada kejadian kaus kaki hilang sebelah.
Sementara di Indonesia, hal semacam itu mungkin memang tidak dilakukan. Sudah kebiasaan kalau datang ke tempat laundry ya paling ditimbang (lewat-lewat dikit dari semestinya, tetap saja ambil 1 mesin saja!), langsung masuk mesin, cuci, pindah ke pengering, ambil lipat, masukkan ke tas atau kantung lagi, cabut!
Memang, perbedaan kebiasaan bisa jadi identitas sebuah bangsa. Misalnya kebiasaan bersalaman dengan hidung a la Maori mungkin akan dianggap aneh oleh bangsa lain. Namun, kebiasaan itu ternyata bisa dibentuk dengan pengajaran atau pendidikan, baik melalui sekolah ataupun di rumah.
Kebiasaan membuang sampah misalnya. Kalimat "buanglah sampah pada tempatnya" itu mengandung beberapa kelemahan. Kata "membuang" menjadikan persepsi di benak banyak orang bahwa "sampah" adalah sesuatu yang sudah tidak ada gunanya lagi. Satu-satunya cara untuk menghilangkan hal yang tak ada gunanya adalah dengan "membuang" saja. Padahal, sampah organik dan anorganik sekarang memiliki banyak kegunaan. Ada yang jadi bahan bakar, ada yang jadi kompos, ada yang buat makan maggot, ada yang dijadikan ecoenzyme dan sebagainya. Belum lagi sampah anorganik bisa dijadikan palet plastik bahkan batu bata plastik.
Belum lagi frasa "pada tempatnya" yang merujuk pada "tempat yang disediakan". Padahal banyak tempat di seluruh wilayah di Indonesia yang tersedia tempat untuk membuang sampah. Bahkan beberapa kota tengah menghadapi kedaruratan tempat pembuangan sampah akhir ataupun sementara. Sehingga ketika di suatu daerah kekurangan "tempat sampah" maka yang terjadi adalah "membuang sampah di sembarang tempat."
Dengan banyak kegunaan sampah sekarang ini, mungkin kalimat "buang sampah pada tempatnya" sangat perlu untuk diubah. Bisa misalkan "Simpanlah sampah organik ke lubang di tanah untuk menjadi kompos" dan sebagainya. Dengan demikian masyarakat mendapatkan pengajaran baru akan cara "membuang sampah" dan akhirnya terbentuk kebiasaan baru dalam hal pengelolaan sampah.
Bayangan seperti itu menunjukkan kemungkinan bahwa identitas bangsa bisa diperbaiki dengan membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik yang berdampak positif terhadap lingkungan dan sesama. Salah satu yang dianggap berhasil adalah ketika makanan seng-su (tongseng daging anjing) menghilang dari jelajah kuliner di sebuah kota. Hal ini terjadi karena masyarakat mendapatkan informasi, himbauan dan pengajaran bahwa anjing bukan untuk dikonsumsi, dan kebanyakan anjing yang berakhir di kedai seng-su adalah anjing curian.
Kembali ke soal kaus kaki sebelah, hemat saya, para pengusaha laundry seharusnya bisa menerapkan SOP yang menjamin bahwa customer tidak akan mengalami hal seperti itu. Toh, itu kerja profesional. Jangan sampai, gara-gara tidak adanya SOP dalam pelayanan, lalu kemudian orang asing seperti Yutaka Tokunaga tadi mengira bahwa itu adalah identitas atau kebiasaan bangsa Indonesia.
Komentar